Kopi Merapi Merbabu Magelang Didaftarkan ke Ditjen Kekayaan Intelektual

Sep 20, 2022

JAKARTA: Dari kopi Gayo Aceh hingga kopi Wamena Papua. Indonesia adalah negeri yang terkenal dengan kopi yang dibudidayakan. Di antara yang menonjol adalah Kopi Luwak, kopi termahal di dunia, Kopi Toraja, kopi pahit yang lembut dengan rasa bunga dan buah yang berhasil menyandang predikat “Ratu Kopi”, dan sekarang, Kabupaten Magelang telah memutuskan untuk memperkenalkan kopi khas kepada dunia.

Kopi dari Magelang yang dimaksud adalah kopi yang penduduknya memberikan nama “Arabika Merapi Merbabu Magelang”. Kopi ini menjadi pilihan pertama konsumen di antara sekian banyak jenis kopi yang diperdagangkan penjual-penjual kopi yang terkenal tidak saja di Provinsi Jawa Tengah dan Jogyakarta, tapi sudah meluas ke seluruh nusantara. Reputasinya tidak diragukan lagi.

Kopi Arabika Merapi Merbabu Magelang dihasilkan dari tanaman kopi Arabika yang ditanam pada ketinggian 900 meter sampai dengan 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tanaman ini tumbuh di atas tanah yang ada di wilayah Kabupaten Magelang.

Wilayah Kabupaten Magelang secara topografi berbentuk menyerupai cawan (cekungan) yang dikelilingi oleh 5 (lima) gunung yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Kawasan ini memiliki rata-rata jumlah curah hujan lebih dari 1.300 mm/tahun, dengan rata-rata 3 bulan kering/tahun. Di dalam wilayah ini, tanaman untuk kopi Arabika Arabika Merapi Merbabu Magelang dapat bertumbuh dengan subur.

Petani kopi jenis Arabika Merapi Merbabu Magelang sangat selektif dengan memilih biji kopi yang akan mereka panen, baik itu berasal dari olah basah atau olah kering. Ini untuk memastikan bahwa cita rasa kopi Kopi Arabika yang khas terjaga kemutuan dan kenikmatannya.

Untuk mempertahankan dan menjaga kualitas kopi tersebut tetap prima, maka masyarakat yang tergabung dalam MPIG Arabika Merapi Merbabu Magelang mengajukan permohonan pendaftaran sebagai produk indikasi geografis ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Pendaftaran itu juga bermaksud melindungi konsumen, sehingga mereka tidak terkecoh dan mendapatkan kopi yang sesuai dengan ekspektasinya.

Menurut dokumen permohonan, sebagaimana dikutip dari Berita Resmi Indikasi Geografis, kopi Arabika merupakan salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat yang mendiami Kawasan Merapi Merbabu Magelang. Kawasan ini mempunyai iklim yang khas. Udaranya dingin dan lembab. Suhu udara rata-rata 20 – 27 °C dengan kelembaban udara 82 % dan kecepatan angin 1,8 knot.

Jenis barang yang dimintakan perlindungan indikasi geografis adalah kopi olah basah, kopi olah kering dan kopi madu (honey coffee), dengan produk berupa kopi biji (green bean atau coffee bean), kopi sangrai (roasted bean), dan kopi bubuk (coffee powder).

Permohonannya yang diajukan pada 24 Juni 2022 tercatat memiliki nomor E-IG.09.2022.000005 dan dipublikasikan serta mulai diumumkan pada 2 Agustus 2022. Saat ini permohonan tersebut masih dalam tahap publikasi. Apabila nanti telah resmi terdaftar, maka pendaftaran Indikasi Geografis atas Kopi Arabika Merapi Merbabu Magelang tersebut akan menjadi bentuk pengakuan dari pemerintah terhadap komoditas tersebut. (RIE-BDP/Su)

Avatar
K&K Advocates

K&K Advocates